(1)
Direktur Jenderal Pajak dapat melakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan secara:
a.
terbuka; atau
b.
tertutup.
(2)
Jangka waktu Pemeriksaan Bukti Permulaan terhitung sejak:
a.
tanggal penyampaian pemberitahuan Pemeriksaan Bukti Permulaan sampai dengan tanggal Laporan Pemeriksaan Bukti Permulaan dibuat, dalam hal Pemeriksaan Bukti Permulaan dilakukan secara terbuka; atau
b.
tanggal Surat Perintah Pemeriksaan Bukti Permulaan diterima oleh Pemeriksa Bukti Permulaan sampai dengan tanggal Laporan Pemeriksaan Bukti Permulaan dibuat, dalam hal Pemeriksaan Bukti Permulaan dilakukan secara tertutup.
(3)
Pemeriksaan Bukti Permulaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan yang terdiri dari:
a.
penerbitan Surat Perintah Pemeriksaan Bukti Permulaan;
b.
penyampaian surat pemberitahuan Pemeriksaan Bukti Permulaan, surat pemberitahuan Surat Perintah Pemeriksaan Bukti Permulaan perubahan, dan/atau surat pemberitahuan perpanjangan jangka waktu Pemeriksaan Bukti Permulaan kepada orang pribadi atau badan yang dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan;
c.
perolehan dan peminjaman Bahan Bukti;
d.
penanganan data elektronik, unduhan data elektronik, dan/atau bukti elektronik untuk memperoleh atau mengamankan Bahan Bukti;
e.
permintaan keterangan dan/atau bukti untuk memperoleh dan menguatkan Bahan Bukti;
f.
Klarifikasi mengenai potensi kerugian pada pendapatan negara kepada orang pribadi atau badan yang dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan;
g.
penerbitan dan penyampaian Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan Bukti Permulaan kepada orang pribadi atau badan yang dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan berdasarkan Bahan Bukti yang diperoleh;
h.
pelaporan hasil Pemeriksaan Bukti Permulaan; dan/atau
i.
penerbitan Pemberitahuan Tindak Lanjut Pemeriksaan Bukti Permulaan
Teks diambil dari DJP pada 4 Okt 2026. Untuk kepastian hukum, rujuk naskah resmi di sumbernya.