SPT dianggap tidak lengkap apabila :
1.
Nama dan/atau NPWP tidak mencantumkan dalam SPT;
2.
Elemen-elemen induk SPT dan lampiran SPT sebagaimana dimaksud pada Pasal 2 ayat (1) atau (2) tidak atau kurang lengkap diisi;
3.
Induk SPT tidak ditandatangani oleh PKP atau Pemungut PPN;
4.
Induk SPT ditandatangani oleh Kuasa PKP atau Kuasa Pemungut PPN, tetapi tidak dilampiri Surat Kuasa Khusus;
5.
SPT Kurang Bayar tetapi tidak dilampiri Surat Setoran Pajak;
6.
SPT yang Lampiran SPT-nya tidak disampaikan, kecuali SPT yang dilaporkan NIHIL karena PKP tidak ada kegiatan penyerahan dan perolehan BKP dan/atau JKP atau karena pemungut PPN tidak melakukan pemungutan PPN atau PPN dan PPn BM;
7.
Dalam hal SPT disampaikan dalam bentuk media elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b angka (1) berdasarkan pengujian data, diketahui :
a.
Induk SPT hasil cetakan yang disampaikan oleh PKP atau Pemungut PPN tanpa disertai Lampiran SPT dalam bentuk media elektronik, kecuali SPT sebagaimana dimaksud pada angka 6;
b.
Induk SPT hasil cetakan yang disampaikan oleh PKP atau Pemungut PPN tidak sesuai dengan Induk SPT yang ada dalam bentuk media elektronik;
c.
Elemen-elemen data elektronik dalam bentuk media elektronik yang disampaikan oleh PKP atau Pemungut PPN tidak diisi atau diisi tidak lengkap;
d.
Data elektronik dalam bentuk media elektronik yang disampaikan oleh PKP atau Pemungut PPN tidak dapat diproses pada aplikasi SIP/SAPT/SIDJP.
8.
Dalam hal PKP menyampaikan SPT melalui e-Filing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3), berdasarkan pengujian data elektronik, induk SPT hasil cetakan tersebut tidak sesuai dengan data elektroniknya.
Teks diambil dari DJP pada 6 Okt 2026. Untuk kepastian hukum, rujuk naskah resmi di sumbernya.